Showing posts with label Motivasi. Show all posts
Showing posts with label Motivasi. Show all posts

Jadilah Pembeda Di antara Temanmu

Hidup ini bagaikan roda yang berputar. Kadang kala merasa unggul dari orang lain dan kadang kala merasa kalah dari orang lain. Seperti hal nya ketika kamu berada di dalam kelas saat masih duduk di bangku sekolah. Kala itu kamu merasa lebih unggul dalam hal apapun dari teman-teman sekelasmu. Kamu selalu bisa di andalkan oleh teman-temanmu saat kerja kelompok, saat olahraga, atau bahkan saat sedang ujian. Rasanya seperti menjadi penguasa kelas meskipun kamu bukan menjadi ketua kelas. Keadaan seperti ini sungguh menyenangkan, bukan?

Jadilah Pembeda Di antara Temanmu

Namun, hidup bukanlah seperti itu. Tidak selamanya kamu merasa berada diatas dari yang lain sebab diatas langit masih terdapat langit-langit lainnya yang lebih tinggi. Keadaan berubah drastis ketika kamu sudah lulus dan memasuki dunia perkuliahan. Dimana kala itu kamu merasa unggul dari teman-teman sekelasmu saat berada di sekolah, berubah menjadi tak berdaya dengan teman-teman sekelasmu saat berada di bangku perkuliahan. Ibaratnya kamu menjadi seperti semut yang berada diantara para gajah. Sulit rasanya untuk bisa mengimbangi kehebatan mereka.

Lalu, apakah kamu akan menyerah dengan keadaan seperti itu?

Setiap orang memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Sehebat apapun temanmu pasti mempunyai kekurangan. Walaupun kamu seperti seekor semut kecil yang tak berarti dihadapan para gajah yang hebat, bukan berarti seekor semut tidak memiliki keahlian yang ada di dalam dirinya. Meskipun kamu merasa minder karena kalah hebatnya dengan teman-teman sekelasmu, bukan berarti kamu tidak bisa apa-apa. Tumbuhkanlah rasa keyakinan dalam diri bahwa kamu juga mempunyai kemampuan yang tak kalah hebatnya dengan teman-teman sekelasmu.
Apabila engkau melihat seseorang mengunggulimu dalam masalah dunia, maka unggulilah dia dalam masalah akhirat. ~Al Hasan Al Bashri~
Optimisme perlu diraih agar semua keminderan itu musnah. Carilah sebuah kemampuan yang jarang teman-teman sekelasmu miliki. Kemudian maksimalkan kemampuan itu. Dengan begitu, kamu bisa mengungguli mereka dengan kemampuan yang mereka tidak miliki. Sebagai contoh, bila temanmu hebat dalam hal pelajaran namun dia tidak mahir dalam hal teknologi, maka unggulilah dia dalam hal teknologi. Dengan begitu, kamu bisa dikenal dan diandalkan oleh temanmu bila temanmu meminta bantuanmu dalam hal teknologi.

Seekor semut bisa menjadi terkenal di kalangan para gajah karena dia mempunyai kemampuan yang berbeda dari gajah-gajah yang ada. Semut itu menunjukkan bahwa meskipun dia kecil dan keberadaannya sering tak dianggap, namun dia tetap berusaha agar dirinya dikenal oleh para gajah yang ada di sekitarnya dengan menunjukkan kemampuan yang tidak di miliki oleh para gajah di sekitarnya. Dengan begitu, para gajah akan mengakui semut itu dengan segala kemampuannya.

Begitu juga bila kamu berada di dalam kelas yang berisi orang-orang hebat di dalamnya, namun kamu merasa bahwa kamulah satu-satunya orang yang tak sehebat mereka. Maka, janganlah menjadi minder dengan ketidakhebatanmu itu terhadap mereka. Carilah kemampuan yang mereka tidak miliki. Kemudian kembangkanlah kemampuan itu. Dengan kemampuan yang berbeda tersebut, kamu akan diakui oleh mereka sebagai orang yang hebat juga.

Melihat Potensi Yang Terpendam Dalam Diri

Ada apa dengan diri kamu? Begitu berartikah apa-apa yang ada di dalam diri kamu? Mungkin ada yang mengira bahwa diri kamu itu hanya hal yang biasa-biasa saja. Tidak memiliki kehebatan atau kekuatan di dalam diri kamu yang bisa memberikan kemajuan dan kesuksesan.
Melihat Potensi Yang Terpendam Dalam Diri

Bagi para pesimistis, melihat diri tidak lain hanyalah sebuah kelemahan. Mereka akan mengeluhkan dirinya karena ketidakmampuan untuk berbuat sesuatu. Tapi bagi para optimistis, mereka melihat dirinya dengan segala keterbatasannya adalah sebagai sebuah kekuatan atau kehebatan yang setiap saat bisa diledakkan untuk mencapai sebuah kesuksesan.

Apakah kamu sadar bahwa segala kunci kesuksesan itu sesungguhnya ada di dalam dirimu sendiri? Bahkan di dalam Al-Qur’an sendiri mengingatkan agar kamu mempelajari dan menelusuri kekuatan dan potensi yang ada di dalam diri kamu. Al-qur’an juga menegaskan kalau kesuksesan seseorang itu sangat di pengaruhi oleh kesungguhan dirinya untuk merubah nasibnya sendiri.

لَهُ مُعَقِّبَاتٌ مِنْ بَيْنِ يَدَيْهِ وَمِنْ خَلْفِهِ يَحْفَظُونَهُ مِنْ أَمْرِ اللَّهِ ۗ إِنَّ اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ ۗ وَإِذَا أَرَادَ اللَّهُ بِقَوْمٍ سُوءًا فَلَا مَرَدَّ لَهُ ۚ وَمَا لَهُمْ مِنْ دُونِهِ مِنْ وَالٍ
“Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, di muka dan di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah. Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia." (QS. Ar-Ra'd ayat 11)

Dengan demikian sebelum orang melakukan perubahan terhadap yang ada di luar dirinya, maka pertama yang harus dirubah dan diperbaiki adalah dirinya sendiri dulu. Ada sebuah prinsip bahwa segalanya diciptakan dua kali seperti para tukang kayu yang selalu mengukur dua kali baru memotongnya. Apa maksudnya?

Bahwa ketika kamu ingin meraih sesuatu hal yang pertama-tama dibuat adalah membayangkan dan merencanakan bagaimana meraihnya di dalam alam pikiran kamu. Setelah gambaran itu diciptakan, catatkanlah rencana tadi dari keinginan kamu. Barulah kamu mencoba membuat rancangan bagaimana agar keinginan itu bisa diraih di alam nyata.

Jadi, yang dimaksudkan dengan prinsip segalanya dua kali itu adalah satu hal yang harus kamu ciptakan dulu adalah keinginan dan konsep dalam diri kamu. Barulah kemudian kamu mewujudkannya di alam nyata dengan melangitkan doa dan membumikan ikhtiar.

Di sinilah perlunya setiap pribadi muslim harus terus membangun kesadaran diri bahwa dirinya itu memiliki potensi diri yang bisa diledakkan. Dan memiliki keyakinan diri bahwa kalau saja dia berkeinginan keras dan bekerja keras serta membangun optimisme bahwa Allah SWT akan menolong dan memudahkan segala urusannya, maka segalanya menjadi mudah dan ringan.


Sekarang masalahnya adalah sudahkah kamu mengenali diri kamu sendiri? Yakinkah kamu dengan kemampuan yang kamu miliki? Dan sudah berprasangka baikkah kamu kepada Allah SWT? Jika belum, kenapa tidak memulainya?

Sikap Menghadapi Hinaan Orang Lain

Pernahkah kamu merasa dihina oleh orang lain? Lalu, apa yang kamu lakukan jika kamu dihina? Meratapinya? Atau membalasnya dengan hinaan yang sama?

Mari kita berfikir sejenak!

Sikap menghadapi hinaan orang lain


Hidup di dunia ini tak terlepas dari hinaan dan celaan. Ada saja orang-orang yang menghina dirimu karena keadaan fisikmu, penampilanmu, status sosialmu, dan lain sebagainya. Ketika dirimu dihina oleh orang lain, pasti timbul dalam hati perasaan sakit, marah dan kesal terhadap orang yang menghina dirimu itu. Rasanya ingin membalasnya dengan hinaan yang sama atau bisa jadi lebih buruk dari itu. Hal itu bisa saja kamu lakukan, namun percayalah dampak negatifnya lebih besar untuk dirimu. Waktumu juga akan menjadi sia-sia, bahkan bisa mendatangkan berbagai keburukan setelahnya.

Lalu, apakah kita hanya berdiam diri ketika dihina oleh orang lain?


Jawabannya adalah “Ya!”. Ketika ada orang lain yang menghina fisikmu, penampilanmu, status sosialmu, dan lain sebagainya, cukuplah kamu membalasnya dengan diam, tenang, dan sabar. Mengapa begitu? Karena pada saat itu sedang terjadi proses transfer yang luar biasa cepatnya, dimana pahalamu sedang bertambah dari orang yang menghinamu, sedangkan dosa-dosamu sedang diambil oleh orang yang sedang menghinamu. Nah bukankah hal itu menyenangkan, hanya diam, tenang dan sabar kamu bisa mendapatkan pahala gratis dan terhapus dosamu tanpa usaha.

Dalam Al-qur’an dijelaskan bahwa Nabi dan Rasul pun pernah mengalami hinaan oleh kaumnya sendiri. Padahal Nabi dan Rasul adalah manusia yang memiliki kedudukan yang mulia di sisi Allah swt. Mereka begitu sempurna hingga tak memiliki cacat dan kesalahan. Namun, lihatlah bagaimana hinaan dari kaumnya kepada mereka.

Nabi Nuh as dituduh sesat :
قَالَ الْمَلأُ مِن قَوْمِهِ إِنَّا لَنَرَاكَ فِي ضَلاَلٍ مُّبِينٍ
Pemuka-pemuka kaumnya (Nuh) berkata, “Sesungguhnya kami memandang kamu benar- benar berada dalam kesesatan yang nyata.” (QS.Al-A’raf:60)

Nabi Hud as dituduh kurang waras dan pendusta :
قَالَ الْمَلأُ الَّذِينَ كَفَرُواْ مِن قَوْمِهِ إِنَّا لَنَرَاكَ فِي سَفَاهَةٍ وِإِنَّا لَنَظُنُّكَ مِنَ الْكَاذِبِينَ
Pemuka-pemuka orang- orang yang kafir dari kaumnya (Hud) berkata, “Sesungguhnya kami memandang kamu benar-benar kurang waras dan kami kira kamu termasuk orang-orang yang berdusta.” (QS.Al-A’raf:66)

Nabi Shalih as disebut sebagai pendusta dan sombong :
أَأُلْقِيَ الذِّكْرُ عَلَيْهِ مِن بَيْنِنَا بَلْ هُوَ كَذَّابٌ أَشِرٌ
“Apakah wahyu itu diturunkan kepadanya di antara kita? Pastilah dia (Shalih) seorang yang sangat pendusta (dan) sombong.” (QS.Al-Qamar:25)

Nabi Musa dianggap hina seperti anak kecil karena tidak fasih dalam berbicara :
أَمْ أَنَا خَيْرٌ مِّنْ هَذَا الَّذِي هُوَ مَهِينٌ وَلَا يَكَادُ يُبِينُ
“Bukankah aku lebih baik dari orang (Musa) yang hina ini dan yang hampir tidak dapat menjelaskan (perkataannya)?” (QS.Az-Zukhruf:52)
                                                                             
Nabi Muhammad disebut sebagai penyair, pendusta dan orang gila :
وَيَقُولُونَ أَئِنَّا لَتَارِكُوا آلِهَتِنَا لِشَاعِرٍ مَّجْنُونٍ                  
Dan mereka berkata, “Apakah kami harus meninggalkan sesembahan kami karena seorang penyair gila?” (QS.As-Shaffat:36)

Ayat-ayat diatas telah menjelaskannya, para Nabi dan Rasul dianggap oleh kaumnya sebagai orang gila, tukang sihir, sesat, pendusta dan lain sebagainya. Namun apakah para Nabi dan Rasul tersebut kesal dan membalas perbuatan kaumnya dengan balasan yang sama atau bahkan lebih? Tentu saja tidak! Walaupun para Nabi dan Rasul tersebut bisa membalas perbuatan kaumnya dengan balasan yang setimpal atau bahkan lebih dahsyat, tetap saja para Nabi dan Rasul tersebut tidak mau menyakiti kaumnya dan bahkan mendoakan kaumnya agar mereka diberikan petunjuk oleh Allah Swt. sehingga bisa berada di jalan yang lurus.

Oleh karena itu, janganlah membalas hinaan dengan hinaan juga seperti yang telah diajarkan oleh para Nabi dan Rasul tersebut. Lalu janganlah membenci orang yang telah menghinamu 

Jadilah seperti bunga yang memberikan keharuman bahkan kepada tangan yg telah menghancurkannya. -Ali Bin Abi Thalib-
Kemudian doakanlah orang yang menghinamu agar diberikan hidayah oleh Allah Swt.

Semoga Allah Swt. melimpahkan hidayah dan petunjukNya kepada kita semua sehingga setiap ucapan dan tindakan kita senantiasa terjaga dan terpelihara.